THRIVINMAGZ.COM – Sanur punya alasan baru untuk dikunjungi. Bukan beach club, bukan coffee shop, dan jelas bukan bar biasa. Tamba by Junsei hadir membawa konsep yang masih jarang ditemui di Bali, sebuah Japanese tea room yang berubah menjadi vinyl listening bar ketika matahari terbenam.

Berlokasi tepat di sebelah Junsei di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Tamba terasa seperti hidden gem yang sengaja dibuat untuk mereka yang suka menikmati hal-hal baik dengan lebih pelan. Mulai dari secangkir matcha, segelas cocktail, sampai suara jarum vinyl yang menyentuh piringan hitam.
Dari Tea Room yang Tenang Menjadi Listening Bar yang Intimate
Di siang hari, Tamba by Junsei terasa seperti escape button dari ramainya Bali. Begitu masuk, suasananya langsung berubah. Musik handpan mengalun pelan, koleksi keramik tersusun rapi, dan aroma teh memenuhi ruangan. Vibenya mengingatkan pada tea room Jepang yang tersembunyi di tengah bamboo forest, tapi diterjemahkan dengan sentuhan yang jauh lebih modern dan effortless.

Tempat ini cocok untuk ngobrol santai, me-time, atau sekadar duduk menikmati sore tanpa harus buru-buru pindah ke tempat berikutnya. Lalu sekitar pukul 5 sore, Tamba mulai masuk ke chapter berikutnya.
Lampu meredup, vinyl mulai berputar, cocktail mulai disajikan, dan ruang yang tadinya terasa tenang berubah menjadi listening bar yang hangat dan intimate. Bukan tipe bar yang ramai dan penuh distraksi, tapi lebih ke tempat di mana musik benar-benar jadi bagian dari pengalaman.
Salah satu hal yang bikin Tamba terasa spesial adalah bagaimana setiap elemen ruangannya punya tujuan. Ruangan ini hanya memiliki sekitar sepuluh kursi dengan sebuah bar di tengah yang berfungsi sekaligus sebagai cocktail counter dan pusat sistem vinyl. Dindingnya dipenuhi koleksi piringan hitam, sementara material kayu gelap membuat suasana terasa hangat sejak pertama kali masuk.
Saat sore hari, cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit. Golden hour di sini terasa seperti filter alami yang nggak perlu diedit lagi.
Bahkan sistem audionya pun dibuat khusus. Musik terdengar detail, hangat, dan immersive, tapi tetap memungkinkan kalian ngobrol nyaman tanpa harus saling teriak. Rare combo yang cukup sulit ditemukan di banyak listening bar.
Kalau selama ini kalian menganggap matcha cuma soal latte hijau yang aesthetic, Tamba mungkin akan mengubah perspektif itu. Program teh mereka dirancang sebagai pintu masuk untuk mengenal budaya teh Jepang lebih dalam. Setiap teh dipilih karena punya karakter yang berbeda saat disajikan dengan air, susu, maupun versi dingin.
Tim Tamba juga akan dengan senang hati menjelaskan asal-usul teh, profil rasa, hingga bagaimana suhu air dan teknik whisking bisa memengaruhi tekstur dan rasa akhir dalam cangkir.
Salah satu yang wajib dicoba adalah Okumidori first harvest dari Wazuka, Kyoto, yang disajikan sebagai usucha untuk menampilkan karakter asli matcha tanpa tambahan apa pun.
Kalau lebih suka sesuatu yang creamy, tersedia juga pilihan matcha dari Shizuoka dan Kagoshima yang disajikan sebagai latte maupun iced matcha. Selain itu ada Hōjicha dengan aroma roasted yang mengingatkan pada cokelat dan kakao, serta Genmaicha yang hangat dengan sentuhan nutty dan umami yang ringan.
Menariknya lagi, beberapa minuman menggunakan madu Indonesia non-pasteurisasi dari peternakan lebah di Jawa yang karakter rasanya berubah mengikuti musim. Small detail, but it makes a difference. Tamba juga menghadirkan berbagai seasonal sweets yang dibuat untuk melengkapi pengalaman minum teh. Mulai dari mango mochi yang segar sampai lemon & Earl Grey tart dengan kombinasi rasa citrus yang ringan dan aromatik.
Bukan tipe dessert yang terlalu berat, just enough untuk menemani satu atau dua pot teh sambil menikmati sore.
Ketika Malam Datang, Saatnya Cocktail dan Vinyl Mengambil Alih
Begitu jam menunjukkan pukul 17.00, Tamba mulai menunjukkan sisi lainnya. Program cocktail perdana mereka yang diberi nama Volume 01 digarap oleh Head Bartender Dedi Mulyadi dengan pendekatan yang cukup menarik. Menu dirancang seperti sebuah playlist: dimulai dari rasa yang ringan lalu berkembang menjadi lebih kompleks seiring malam berjalan.

Fermentasi, preservasi, dan umami menjadi benang merah di hampir seluruh menu. Ada Quiet Path yang menggunakan koji untuk menghadirkan karakter savory yang halus. Ada Umetini dengan vermouth kombu yang memberi lapisan rasa lebih dalam. Dan ada Burnt Rice, cocktail dengan roasted rice syrup dan brown butter foam yang terdengar unik sekaligus bikin penasaran.
Untuk yang datang lebih awal, Tamba juga punya happy hour setiap hari dari pukul 17.00 hingga 19.00 dengan promo buy one get one untuk pilihan cocktail tertentu.
Perfect excuse untuk mampir setelah seharian berkeliling Sanur. Dan mungkin, itu yang membuat Tamba terasa begitu relevan hari ini. Karena di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, tempat seperti ini mengingatkan bahwa kadang pengalaman terbaik datang ketika kita memilih untuk slow down and stay a little longer. (Shalfa Nilalfara)
Baca juga B1 Bar Bikin Jakarta Makin Seru Lewat One-Night Cocktail Takeover Bareng Ivan Boris

Leave a Reply