THRIVINMAGZ.COM – Bintaro belakangan ini memang jadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan kuliner yang cukup signifikan. Restoran baru bermunculan, konsepnya makin beragam, dan ekspektasi pengunjungnya pun ikut naik. Di tengah persaingan itu, Sirlo Steak hadir dengan proposisi yang sederhana tapi kuat: daging berkualitas, harga yang tidak mengejutkan, dan pengalaman makan yang layak untuk diingat.

Kami mengunjungi outlet mereka di Jl. Bintaro Utama 9, Blok HB 1 No. 1, lokasi pertama Sirlo yang hadir dalam format restoran fisik setelah sebelumnya beroperasi sebagai cloud kitchen di beberapa titik Jakarta sejak 2021.
Kesan pertama saat masuk adalah ruang yang hangat dan tidak berusaha terlalu keras. Sirlo menempatkan dirinya di antara casual dining dan mid-range steakhouse, bukan yang formal, tapi jelas bukan yang asal-asalan juga.

Interior didominasi material kayu dengan pencahayaan yang nyaman. Ada area yang menghadap langsung ke taman melalui panel kaca besar, menciptakan nuansa semi-outdoor tanpa meninggalkan kenyamanan ruang tertutup. Meja-meja tertata dengan jarak yang cukup, tidak berdempetan, dan pilihan tempat duduk cukup beragam, dari meja panjang untuk rombongan hingga kursi yang lebih intim untuk dua orang. Keseluruhan ambiensnya terasa konsisten: tidak ada elemen yang saling bertentangan, dan itu hal yang lebih jarang ditemukan daripada yang seharusnya.

Sebelum masuk ke menu utama, ada tiga pilihan minuman yang datang ke meja ice tea, mint tea, dan satu varian mocktails yang lebih ringan dengan sentuhan soda. Disajikan dalam gelas tinggi dengan sedotan yang punya karakter visual tersendiri, cukup untuk jadi pembuka yang menyegarkan sebelum perjalanan makan dimulai.

Tidak ada cara lain untuk membahas Sirlo selain langsung ke dagingnya. Tomahawk yang datang ke meja adalah momen tersendiri. Ukurannya besar, tulang rusuknya panjang, disajikan di atas piring putih lebar yang memberi ruang bagi daging untuk tampil tanpa gangguan. Di sekelilingnya hadir beberapa hidangan pendamping: buncis, mashed potato, bayam tumis, dan french fries dengan taburan keju.
Tomahawk-nya dipanggang dengan baik, bagian luar membentuk crust yang solid, sementara bagian dalam tetap lembut dan juicy. Tidak ada kesan daging yang dipaksa matang terlalu cepat. Kualitas bahan bakunya berbicara langsung, dan saus yang disajikan berperan sebagai pelengkap, bukan penutup. Sirloin-nya pun layak disebut. Teksturnya empuk dengan seasoning yang pas, dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi yang ingin menikmati steak tanpa harus memesan potongan paling besar.

Lalu untuk hidangan penutup, Choco Lava Cake datang dengan presentasi yang rapi, tulisan cokelat cair di atas piring putih, irisan stroberi, dan satu scoop es krim vanilla di sisinya. Saat dibelah, cokelatnya mengalir dengan baik. Manisnya terukur, tidak berat, dan justru menjadi penutup yang menyeimbangkan pengalaman makan sebelumnya.
Ada pula satu pilihan dessert lain dengan tekstur lebih ringan dan creamy, dengan biskuit di bagian atas sebagai aksen. Keduanya menunjukkan bahwa Sirlo tidak hanya serius di bagian steak-nya.

Yang membuat Sirlo relevan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal posisinya di pasar. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp60.000 hingga Rp200.000-an per porsi, angka yang cukup jauh di bawah nama-nama besar di kategori yang sama, tanpa terasa ada kompromi yang signifikan pada kualitas.
Untuk kawasan Bintaro dan Tangerang Selatan, Sirlo mengisi celah yang memang ada: restoran steak yang bisa dikunjungi tanpa perencanaan panjang, tapi tetap memberikan pengalaman yang layak untuk diceritakan. (Santi Romarantika)
Baca juga Paras Nusantara Hadirkan Paket Bukber Nusantara yang Kaya Rasa

Leave a Reply