THRIVINMAGZ.COM – Bali akan segera punya destinasi seni baru yang bikin kalian wajib masukin ke bucket list. Eugene Museum, yang rencananya dibuka musim panas 2026 di Tabanan, resmi ngumumin kolaborasi perdana bareng brand fashion legendaris asal Jepang, ISSEY MIYAKE. Lewat proyek bertajuk “Light and Shadow Inside Me”, karya ini bakal jadi bagian dari koleksi permanen museum.

Dari Paris ke Bali: Kolaborasi Eugene Kangawa × ISSEY MIYAKE
Kolaborasi ini berawal dari karya penting Eugene Kangawa, seniman multidisiplin Jepang kelahiran 1989, yang bikin seri Light and Shadow Inside Me (2022). Karya ini pertama kali dipamerkan di Museum of Contemporary Art Tokyo, lalu bakal hadir di Art Basel Paris Oktober 2025, sebelum akhirnya menetap di Eugene Museum Bali tahun depan.
Proyek ini adalah hasil dialog kreatif selama tiga tahun antara Kangawa dengan desainer A-POC ABLE ISSEY MIYAKE, Yoshiyuki Miyamae, dan timnya. Dari ketemu lukisan, lanjut ke workshop, sampai akhirnya lahir ide gila buat bawa cahaya dan bayangan ke dalam medium baru, tekstil inovatif.

Eugene Museum Bali: Seni, Alam, dan Arsitektur Jadi Satu
Eugene Museum nggak main-main. Berdiri di atas lahan persawahan Tabanan yang udah direvitalisasi, museum ini dirancang sama arsitek top Indonesia, Andra Matin. Luasnya lebih dari 1 hektar, dengan 15 galeri permanen, plus fasilitas menginap biar kalian bisa ngerasain karya seni Eugene Kangawa dalam vibe cahaya senja, sesuatu yang nggak bisa kalian dapetin kalau cuma datang siang hari.
Fasadnya pakai bata terakota handmade dari pengrajin lokal, jadi tetap nyatu dengan alam Bali. Ini bukan cuma museum, tapi experience baru yang nge-blend seni kontemporer, arsitektur, dan kearifan lokal.
Karya Light and Shadow Inside Me sendiri unik banget. Kangawa bikin karya dua dimensi yang literally cuma pakai cahaya dan bayangan sebagai medium. Ada versi pakai kertas dilapisi pewarna air, dilipat ala origami, lalu dijemur sampai keluar gradasi warna alami. Ada juga versi monokrom fotogram, pakai kertas foto dan cahaya buatan.
Nah, dari situ, tim ISSEY MIYAKE bikin lompatan kreatif. Mereka ngembangin tekstil ‘bit-level’ dengan teknik tenun yang bisa bikin gradasi hitam-putih tanpa pewarna sama sekali, hanya dari kerapatan benang. Hasilnya, karya seni berubah jadi fashion yang hidup.

Antusiasme Seniman & Desainer
Eugene Kangawa bilang kalau kolaborasi ini bener-bener selaras dengan filosofi Issey Miyake yang berpusat pada manusia. Sementara itu, Yoshiyuki Miyamae dari ISSEY MIYAKE nyorotin gimana mereka balik ke “unit terkecil kain” alias benang, untuk nyari cara baru ngejawabin hubungan cahaya dan bayangan.
Bali, Paris, dan Masa Depan Seni Kontemporer
Dengan project ini, Bali nggak cuma jadi tujuan liburan, tapi juga pusat seni kontemporer kelas dunia. Museum ini diprediksi bakal jadi spot wajib buat pecinta seni, fashion, arsitektur, sampai lifestyle enthusiast yang pengen nyari pengalaman baru di pulau dewata. (Shalfa Nilalfara)

Leave a Reply