THRIVINMAGZ.COM – Dunia seni Jakarta lagi dapet fresh energy lewat pameran “AARO” dari Atreyu Moniaga Project yang digelar di CAN’S Gallery. Bukan sekadar art exhibition biasa, tapi culmination journey dari proses panjang empat seniman muda yang udah ditempa selama hampir 19 bulan penuh.

Empat nama yang tampil di sini adalah Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry dan ini jadi first major showcase mereka sebagai bagian dari program inkubasi AMP batch ke-13.
Nama AARO sendiri diambil dari inisial keempat artist. Tapi ternyata ada makna lain yang cukup kuat: a mountain that stands tall and solid.
Sounds simple, tapi vibe-nya dalam banget. Kayak representasi journey mereka dari yang awalnya masih eksplor, sampai akhirnya berdiri lebih solid sebagai artist.

40+ Works, 4 Different Inner Worlds
Di pameran ini, ada lebih dari 40 artworks on canvas yang dipamerkan. Tapi menariknya, tiap seniman punya visual language yang totally berbeda.
Ada Khansa – “Sandbox” (10 works)
A personal journey tentang inner conflict sejak kecil, tentang gimana cara lihat diri sendiri berubah seiring waktu. Feel-nya sangat introspective.
Ansn Martin – “WOY!” (10 works)
Lebih ekspresif, questioning identity, nilai hidup, dan perubahan perspektif. Kayak self-talk yang keras tapi jujur.
Red Maerra – “ASLPLS” (15 works)
Ini lebih ke urban loneliness. Hidup di era digital yang always connected, tapi ironically tetap terasa jauh dan asing.
Oddyendry – “Tungkal” (11 works)
Lebih nostalgic dan grounded. Balik ke kampung halaman, memory, dan proses berdamai dengan masa lalu.
Kalau dilihat keseluruhan, “AARO” itu kayak collective diary tentang growing up di dunia sekarang, chaotic, noisy, tapi tetap personal.
Selama proses inkubasi di Atreyu Moniaga Project, mereka juga ikut fundraising pameran, design publikasi dan archiving, production coordination, sampai networking di art ecosystem. Jadi ini bukan cuma soal hasil akhir, tapi juga how the system works behind the scenes.
Real Talk: Being Artist is Not Always Pretty
Founder sekaligus mentor AMP, Atreyu Moniaga, sempat menekankan hal yang cukup relatable. Banyak orang ngeliat dunia seni itu glamor, vibe-nya estetik, bebas, dan fun. Tapi realitanya jauh lebih kompleks.
“Di balik karya yang terlihat clean dan effortless, ada revisi, deadline, pressure, konflik, dan proses yang panjang banget. Ini seperti mendaki gunung, pelan, berat, tapi meaningful,” kurang lebih begitu insight yang dibawa.
Behind the Scene: Team & Documentation
Project ini juga melibatkan beberapa collaborator, Wilhemus Willy (graphic designer), Joshua Agustinus (exhibition designer), dan Nin Djani (writer)
Semua prosesnya nggak cuma berhenti di pameran tapi juga di-archive dalam sebuah buku limited edition berjudul “AARO”, semacam memory book dari perjalanan panjang ini.
CAN’S Gallery as Space for Growing Artists
CAN’S Gallery juga jadi salah satu ruang penting yang consistently support emerging artists.
Menurut Inge Santoso, pihak gallery melihat project seperti ini sebagai bagian dari ecosystem building, bukan cuma exhibition, tapi juga long-term artist development.
Exhibition Period
Pameran “AARO” dibuka untuk publik mulai 18 April – 11 Mei 2026 di Jakarta Pusat. Update tentang art talk, workshop, dan program lainnya bisa kalian follow di Instagram @atreyumoniaga.project. (Shalfa Nilalfara)
Baca juga Living Lines: J+ Art Awards dan Matraman Art Space Buka Dialog Baru Seni Kontemporer

Leave a Reply